Percepat resapan untuk mencegah banjir

Posted on 18 Januari 2011

0



Disaat musim ujan turun biasanya akan banyak genangan air di sekitar lingkungan kita, genangan air tersebut berpotensi sebagai serang kuman, nyamuk dkk. Bahkan genangan air yang susah diresap tanah akan menjadi kubangan (bajir). Ada beberapa cara untuk mengurangi bahkan dapat mencegah terjadinya genangan air, antara lain biopori dan sumur resapan :

1. Biopori (lubang resapan).

Biopori adalah lubang-lubang tanah yang terbentuk akibat aktifitas organisme di dalamya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna rayap lainnya. lobang-lobang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah, sehingga air dapat meresap dengan baik.

Bila terdapat banyak lubang udara yang terbentuk maka air dipermukaan tanah akan langsung diresap sehingga air tidak mengalir, hal seperti ini biasanya terjadi di tanah hutan yang banyak terdapat bahan organik dari daun-daun yang membusuk sehingga meningkatkan aktifitas hewan tanah, hal seperti ini dapat dilakukan di sekitar lingkungan kita. caranya adalah dengan membuat lobang vertikal dan diisi dengan sampah-sampah organik, seperti daun, rumput dll. sampah-sampah organik ini kan menjadi bahan energi untuk aktifitas hewah tanah sehingga akan terbentuk rongga-rongga di dalam tanah.

Gambar Skema pembuatan lobang Biopori

 

2. Sumur Resapan

Bagaimana sebenarnya sumur resapan itu bekerja? Air hujan yang jatuh ke halaman kita setidaknya 85 persen harus bias diserap oleh halaman tersebut agar tidak meluapkan banjir. Halaman rumah kita secara alamiah bisa menyerap curahan air hujan yang jatuh, termasuk dari atap rumah, yang mengalir melalui talang. Di sini sumur resapan akan mengurangi sumbangan bencana banjir dengan mengurangi sumbangan run off air hujan.

Dibawah tanah, resapan ini akan masuk merembes lapisan tanah yang disebut sebagai lapisan tidak jenuh, dimana tanah (dari berbagai jenis) masih bias menyerap air, kemudian masuk menembus permukaan tanah (water table) di mana dibawahnya terdapat air tanah (ground water) yang terperangkap di lapisan tanah yang jenuh. Air tanah inilah yang sebenarnya kita konsumsi.

Masuknya air hujan melalui peresapan inilah yang menjaga cadangan air tanah agar tetap bisa dicapai dengan mudah. Ii karena permukaan air tanah memang bisa berubah-ubah, tergantung dari suplai dan eksploitasinya. Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah kita tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai.

Bagaimana sebaiknya Sumur Resapan di Pekarangan Rumah Kita Dibuat? Satandar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, menetapkan beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan yaitu :

1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.
2. Sumur resapan harus dijauhklan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum satu meter dari fondasi bangunan.
3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.
4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam (artinya, genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu :
• Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm per jam.
• Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm per jam.
• Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm per jam.

sumber:

– Saptono Istiawan IAI, Harian Kompas 16 Pebruari 2007

http://www.biopori.com

Iklan
Posted in: Lingkungan